Selasa, 24 Juli 2012

Jabrik , Edane 1995 , album Indonesia Terbaik

JABRIK (album kedua Edane, 1995), in my humble opinion, adalah salah satu album terbaik & legendaries yang pernah dirilis musisi Indonesia. Tentu saja, alasan utamanya, karena saya mengidolakan Eet syahranie , tapi diluar itu, sebagai pemerhati (caelah…) music rock, saya belum menemukan album lain yang dirilis musisi lain yang mampu menandingi kemegahan music music di album Jabrik ini. Perpaduan antara hard rock & heavy metal yang kental, musikalitas yang luar biasa mumpuni, sound yang rapi & digarap serius, dibarengi kemampuan menyusun komposisi & rif rif yang luar biasa, membuat saya haus, karena ini adalah siang hari di bulan puasa ….maksud looh??


Dimulai dengan terjangan badai gemuruh heavy metal di lagu Wake of The Storm, lagu yang punya video klip agak norak ini, sejak pertama saya simak di radio GMR saat masih SMP (ijazah terlampir) sampai sekarang tetap membuat saya terkagum,koq bisa ya musisi indonesia bikin lagu se EDAN ini.


Lagu kedua, Jungle Beat, dengan tempo menurun, tetap mengetengahkan rif rif heavy metal yang bikin tegang…. Tuuh kan dikatain tegang aja mikirnya dah kemana…kamseupay deh. Dijembatani oleh lead gitar khas Eet yang jelimet juralit juralit dijamin jari keriting.


Selanjutnya, lagu Big Town, bernuansa hard rock dan rock n roll, berkisah tentang kehidupan kaum urban yang sulit di ibu kota.


Lagu keempat, Victim of The Strife, bisa jadi merupakan salah satu lagu favorit banyak pecinta rock Indonesia (angkatan saya ), sebuah balada tentang anak anak kecil yang jadi korban kekerasan, tapi tetap di pertengahan lagu telinga kita dihantam juga oleh ritme heavy metal yang harmonis.


Lagu ke lima, Call Me Wild, masih sepupuan sama lagu Menang Atau Tergilas di album pertama, dengan pengaruh thrash metal yang kencang & ketukan midpaced drum, ini lagu terbuas di album Jabrik, dan tidak lupa dilengkapi interloud shredding yang mengintimidasi gitaris pemula :D .


Pancaroba, single kedua yang dibikin klip dari album ini, juga digemari secara nasional (tentu saja karena ada klip nya di TV), hmm, apa yang mesti saya bilang selain CADAS seperti batu karang. Seperti lagu lain di album ini, Pancaroba juga punya struktur lagu yang lumayan padat dari rif ke rif, kaya akan komposisi ritmis.


Way Down, menurunkan tensi menjadi hard rock, memberi kesempatan pendengar untuk menarik nafas dulu, disusul dengan komposisi instrumental bas berjudul I.X.S dari sang gondrong kriting Iwan Xaverius yang cukup unik.


Setelah cooling down, suasana berangsur “mengeras” (pasti pilihan kosakata ini salah XD ) dengan lagu Alam Manusia, yang sempat jadi jawara di tangga lagu radio rock di Bandung dalam waktu yang lumayan lama (sok tau nih kayanya..). dengan tempo sedang sedang saja, Alam Manusia punya sound heavy metal yang bagus sekali, tentu terutama di sector gitar, dan punya komposisi yang harmonis buat telinga kebanyakan orang.


Burn It Down, sebuah lagu berirama hard rock yang diakhiri dengan kekejaman Eet Syahranie menganiaya senar gitarnya dari pertengahan (interloud) hingga akhir dengan shredding yang memukau.


Akhirnya, album yang dahsyat & luar biasa (kata orang MLM) ini ditutup dengan sebuah komposisi instrumental bertajuk Kurusetra, mengedepankan gempuran drum Fajar Satritama, yang menderu seperti baling baling helicopter yang tinggal landas, dengan gilasan double pedal bertempo sedang dibarengi sayatan sayatan gitar sang Eet.


Oke, itu saja review saya tentang sebuah album klasik yang menurut saya underrated, semoga menjadikan puasa kita semakin khusyuk… cekakakak. Anyway busway, saat ini sang vokalis, Heri Batara, menjabat sebagai manager band, bukan vokalis lagi, memang cukup disayangkan…